Saturday, 28 May 2022

Nama Jalan

NAMA JALAN
 
Kevin Lynch dalam bukunya Image of The City, mengungkapkan bahwa ada 5 elemen pembentuk image kota secara fisik yaitu: path (jalur), edges (tepian), district (kawasan), nodes (simpul), dan landmark (penanda). Seiring berjalannya waktu, image dan identitas sebuah kota tidak hanya dilihat dari aspek fisik semata, tapi juga non-fisik.
 
Begitu pula dengan salah satu elemen pembentuk image kota versi Kevin Lynch di atas yaitu “Path (jalur)” juga tidak hanya dapat dilihat dari aspek fisik, namun juga non-fisik. Artinya keberadaan jalan (jalur/path) tidak sekedar berfungsi mendukung kegiatan ekonomi dan menghubungkan satu lokasi ke lokasi lainnya. Dilihat dari aspek non-fisik, elemen berupa ‘nama jalan’ yang dilekatkan pada fisik jalan tersebut ternyata tak hanya sekedar menunjukkan identitas lokasi semata, namun juga dapat berperan penting dalam mendukung fungsi sosial, budaya, dan sejarah (tidak hanya mendukung fungsi ekonomi saja).    
 
Kevin Lynch dalam Good City Form, mengungkapkan bahwa “Identity is the extent to which a person can recognize or recall a place as being distinct from other places as having vivid, or unique, or at least a particular, character of its own”. Dengan demikian, pemberian nama jalan juga dapat bertujuan agar masyarakat mampu mengenali atau mengingat suatu tempat yang memiliki karakter/keunikan khusus serta berbeda dengan tempat yang lain.
 
Ditjen BBM Kementerian PUPR menyatakan bahwa ketika sebuah jalan diberikan nama jalan yang memiliki makna sejarah (nama pahlawan nasional, kerajaan, peristiwa sejarah, dll), maka hal tersebut dapat berperan sebagai museum peradaban yang dapat dikenang dan dihargai secara langsung oleh lintas generasi ketika sedang berjalan kaki maupun berkendara melewati jalan tersebut.
 
Ditjen BBM Kementerian PUPR lebih lanjut menegaskan bahwa nama jalan dari sudut pandang sejarah dapat bermanfaat dalam menyebarkan wawasan sejarah secara luas (transfer of knowledge) secara berkesinambungan bagi masyarakat Indonesia lintas generasi dan lintas budaya. Nama jalan yang memiliki unsur sejarah dapat menjadi dokumentasi sejarah yang ditempatkan dalam ruang publik. Dengan demikian, fungsi jalan naik kelas menjadi ruang publik yang memiliki makna lebih besar dari semula.
 
Apabila diperhatikan, nama jalan dapat menjadi jembatan yang dapat meningkatkan rasa keterhubungan dan keterikatan antara masa lalu dengan masa kini, dapat meningkatkan kualitas hubungan bilateral antar negara/daerah, dapat meningkatkan rasa keterikatan dengan ketokohan seseorang yang dijadikan sebagai nama jalan, serta manfaat lainnya.
 
Pada skala internasional, Pemerintah Indonesia meresmikan nama jalan tol layang Jakarta-Cikampek menjadi Jalan Layang MBZ (Mohamed Bin Yazed) pada tahun 2021, sedangkan Pemerintah UEA meresmikan nama jalan Jokowi di Abu Dhabi pada tahun 2020. Pemberian nama jalan secara resiprositas ini menegaskan semakin eratnya hubungan antara Indonesia dan UEA.
 
Dalam skala antar provinsi di Indonesia, Gubernur Jawa Barat 2017-2022 Ridwan Kamil memberi nama jalan Hayam Wuruk dan Majapahit di Jawa Barat dan Gubernur DIY memberi nama Jalan Padjajaran. Nama jalan tersebut memberi pesan perdamaian serta mematahkan pertentangan psikologis yang selama ini dialami oleh masyarakat Sunda dan Jawa (mematahkan mitos Perang Bubat tahun 1357 yang dapat mengganggu hubungan emosional suku Jawa dan Sunda).
 
Pada skala lokal, Pemprov DKI Jakarta pada tahun 2021 mengganti nama Jalan Sungai Kendal menjadi nama Jalan Sekda Saefullah dengan pertimbangan menghargai tokoh lokal yang berjasa membangun daerah tersebut. Pemberian nama ini juga bermanfaat untuk meningkatkan rasa keterikatan antara masyarakat dengan keteladanan tokoh lokal di daerah tersebut.
 
Nama jalan yang berasal dari nama pahlawan/tokoh nasional maupun tokoh lokal merupakan wujud apresiasi dan penghargaan sekaligus upaya memperkenalkan keteladanan tokoh tersebut kepada masyarakat luas. Walaupun demikian, nama jalan tidak terbatas hanya berupa nama pahlawan/tokoh saja, namun juga dapat berupa peristiwa sejarah ataupun nama lain yang memilki makna khusus.
 
Gubernur Jakarta 2017-2022 (Anies Baswedan) pernah mengatakan bahwa pemberian nama jalan juga dapat menjadi salah satu upaya “…bagaimana membuat Jakarta menjadi kota yang mencerminkan peristiwa-peristiwa penting dan tokoh-tokoh penting yang ada di dalamnya. Sebuah kota bukan hanya berisi bangunan, sebuah kota itu berisi berisi deretan peristiwa bersejarah yang ada di kota ini dan kota menjadi seperti sekarang itu karena akumulasi pengalaman warganya dan pengalaman warga ini melewati lintas waktu dari mulai pengalaman dijajah, pengalaman membebaskan penjajahan, pengalaman mempertahankan kemerdekaan, sampai pengalaman untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan.”
 
Mengutip kutipan di website PU, "Shakespeare pernah berkata, “What's in a name. A rose by any other name would smell as sweet” (apalah arti sebuah nama, sebuah mawar apabila diberi nama lain tetaplah harum)." Namun demikian ternyata "nama jalan" bagi bangsa Indonesia memiliki makna khusus. Nama jalan sejatinya dapat mempersatukan elemen masyarakat dan dapat pula memberikan edukasi sejarah bagi masyarakat, karena nama jalan dapat menjadi museum peradaban yang ditempatkan di ruang publik.

Referensi:
Kevin Lynch,
Kementerian PUPR https://binamarga.pu.go.id/index.php/article/mengingat-nama-pahlawan-melalui-nama-jalan
 


No comments: